Terasa bagai terbau-bau haruman bunga dari pohon sena yang tatkala berbunga, menghambur sekali pandangan kuning dari warnanya. Mempalit sekali kenangan pahit manis sewaktu di alam persekolahan, menengah atas. Pohon yang aku patrikan nama pohon 4 musim, ingin sekali aku lihatnya kembali. Sudah tumbangkah ia, atau masih menabur cantik pada pandangan mata yang melihat? Atau mungkin, sudah menjadi simbolik bagi insan-insan lain yang pernah merasa yang tersirat darinya?
Herm.. aku kalah lagi pada kenangan itu. Memori itu seperti baru semalam berlalu. Dari situlah, aku kenal erti berdikari, aku kenal erti persahabatan, aku kenal erti keluarga, aku kenal erti impian, aku kenal erti harapan, aku kenal erti kesusahan. Aku belajar segala-galanya dari situ. Dari sekolah yang punya pohon sena 4 musim itulah aku letakkan sebagai satu titik permulaan dalam hidupku yang tak mungkin dan tak pernah padam kenangannya. Aku mahu ulang kembali saat itu. Saat aku kucup baunya, bersama memorinya, yang hadir bersama airmata.
Masih segar dalam ingatan aku, sewaktu kangan pada keluarga, aku akan berdiri di balkoni tingkat atas asrama dan sebedang pemandangan di hadapanku ialah padang yang luas (tempat aku paling benci menjelang sukan tahunan!). Bukit-bukau yang jauh dibelakangnya akan kelihatan setelah hujan reda. Subhanallah, indah sungguh ciptaan Allah, kan? Takjub sungguh, kerana pada hari mentari menyinar, bukit itu tidak mungkin tidak untuk kita nampak. Dari ekor mata pula, aku nampak pohon sena yang sebatang itu. Ada ketika ia akan kurus melidi seperti musim panas, ada ketika ia akan meluruhkan daun seperti musim luruh, ada ketika ia akan menumbuhkan daun yang melebat pada waktu kehujanan seperti musim sejuk dan ada ketika ia akan berbunga yang menguning seperti musim bunga. Masya Allah, kesempurnaan Mu tidak ada tolok bandingnya!
Ruang itu sentiasa aku nanti untuk ku lewati. Juga, peluang untuk insan yang aku masih keliru kehadirannya yang akan mampir bersama memori ini. Tapi, terlewatkah aku untuk melihat musim pohon sena itu kembali berbunga? Samakah keadaannya aku dengan insan itu? Aku masih tegar menanti. Aku yakin, Allah swt Maha Mengetahui. Pada yang lain-lain yang sudah aku tutupkan peluang, maaf. Aku tidak bisa menggantikan kenangan itu dengan kenangan baru, bagai sudah semadi dalam sanubari ini. Maaf.
Kadangkala, kita tak akan sedari yang kita memerlukannya sehinggalah kita kehilangannya..

No comments:
Post a Comment